‘’PENGELOALAAN LIMBAH LABORATORIUM’’
Nama :
Rita Arnila
NIM : A1C317073
Kelas :
Pendidikan Fisika Reguler A 2017
PROGRAM
STUDI PENDIDIKAN FISIKA
JURUSAN
PENDIDIKAN MATEMATIKA dan ILMU PENGETAHUAN ALAM
FAKULTAS
KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS
JAMBI
2018
PENGELOLAAN LIMBAH
LABORATORIUM
1.
Pengertian Limbah
Laboratorium
Limbah adalah buangan yang
dihasilkan dari suatu proses produksi baik industri maupun domestik(rumah
tangga), yang lebih dikenal sebagai sampah, yang kehadirannya pada suatu saat
dan tempat tertentu tidak dikehendaki lingkungan karena tidak memiliki nilai
ekonomis.
Menurut Recycling and Waste Management Act limbah didefinisikan sebagai benda bergerak yang diinginkan oleh pemiliknya
untuk dibuang atau pembuangannya dengan cara yang sesuai, yang aman untuk
kesejahteraan umum dan untuk melindungi lingkungan. Limbah laboratorium adalah
limbah yang berasal dari kegiatan laboratorium.
Sumber limbah laboratorium dapat
berasal diantaranya dari :
1.
Bahan
baku yang telah kadaluarsa
2.
Bahan
habis pakai (misal medium biakan/ perbenihan yang tidak terpakai)
3.
Produk
proses di laboratorium (misal sisa spesimen)
4.
Produk
upaya penanganan limbah (misal jarum suntik sekali pakai)
Limbah
adalah buangan yang kehadirannya pada suatu saat dan tempat tertentu tidak
dikehendaki lingkungannya karena tidak mempunyai nilai ekonomi. Limbah
mengandung bahan pencemar yang bersifat racun dan bahaya. Limbah ini dikenal
dengan limbah B3 (bahan beracun dan berbahaya).
Limbah Laboratorium adalah buangan yang berasal dari
laboratorium. Dalam hal ini khususnya adalah laboratorium kimia. Limbah ini
dapat berasal dari bahan kimia, peralatan untuk pekerjaan laboratorium dan
lain-lain. Limbah laboratorium ini mempunyai resiko berbahaya bagi lingkungan
dan mahluk hidup.
Unsur-unsur
tersebut meliputi antara lain sebagai berikut :
a.
Penanggung
Jawab Laboratorium
b.
Para
ahli pakar dan lembaga yang dapat memberikan saran-saran
c.
Para
pengusaha dan swasta yang dapat menyediakan sarana fasilitas yang diperlukan.
A. Limbah Kimia
Pengolahan air
buangan secara kimia biasanya dilakukan untuk menghilangkan partikel-partikel
yang tidak mudah mengendap (koloid), logam-logam berat, senyawa fosfor, dan zat
organik beracun; dengan membubuhkan bahan kimia tertentu yang diperlukan.
Penyisihan bahan-bahan tersebut pada prinsipnya berlangsung melalui perubahan
sifat bahan-bahan tersebut, yaitu dari tak dapat diendapkan menjadi mudah
diendapkan (flokulasi-koagulasi), baik dengan atau tanpa reaksi oksidasi-reduksi,
dan juga berlangsung sebagai hasil reaksi oksidasi.
Pengendapan bahan tersuspensi yang tak
mudah larut dilakukan dengan membubuhkan elektrolit yang mempunyai muatan yang
berlawanan dengan muatan koloidnya agar terjadi netralisasi muatan koloid tersebut,
sehingga akhirnya dapat diendapkan. Penyisihan logam berat dan senyawa fosfor
dilakukan dengan membubuhkan larutan alkali (air kapur misalnya) sehingga
terbentuk endapan hidroksida logam-logam tersebut atau endapan hidroksiapatit.
Endapan logam tersebut akan lebih stabil jika pH air > 10,5 dan untuk hidroksiapatit pada pH > 9,5. Khusus
untuk krom heksavalen, sebelum diendapkan sebagai krom hidroksida [Cr(OH)3],
terlebih dahulu direduksi menjadi krom trivalent dengan membubuhkan reduktor
(FeSO4, SO2, atau Na2S2O5). Penyisihan bahan-bahan organik beracun seperti
fenol dan sianida pada konsentrasi rendah dapat dilakukan dengan
mengoksidasinya dengan klor (Cl2), kalsium permanganat, aerasi, ozon hidrogen
peroksida. Pada dasarnya kita dapat memperoleh efisiensi tinggi dengan
pengolahan secara kimia, akan tetapi biaya pengolahan menjadi mahal karena
memerlukan bahan kimia.
Hal-Hal yang Perlu Diperhatikan
dalam Penanganan Limbah Kimia
1. Labelisasi
botol/wadah limbah
Semua wadah limbah kimia harus
diberi label dengan warna yang mecolok. Label tersebut diberi keterangan
terkait nama lengkap bahan (tunggal atau campuran), mulai penyimpanan, tanggal
pembuangan dan informasi penting lainnya.
2.
Tempat penyimpanan limbah
Beberapa
kriteria yang harus diperhatikan dalam memilih tempat untuk menyimpan limbah,
diantaranya:
·
Jangan
menyimpan limbah di lemari asam di mana reaksi kimia sering dilakukan.
·
Wadah
untuk menyimpan limbah harus disesuaikan. Biasanya wadah yang sering dipakai
untuk menyimpan limbah terbuat dari gelas (kaca) atau polietilen.
·
Jangan
menggunakan wadah yang terbuat dari kaleng logam jika limbah bersifat asam dan
basa kuat karena dapat merusak wadah dengan cepat.
- Jangan menyimpan wadah limbah di dekat air atau
westafel.
Cara pengelolaan limbah kimia :
a. Netralisasi
Limbah
yang bersifat asam dinetralkan dengan basa seperti kapur tohor, CaO atau Ca(OH)2
Sebaliknya, limbah yang bersifat basa dinetralkan dengan asam seperti H2SO4
atau HCI.
b. Pengendapan/sedimentasi, koagulasi
dan flokulasi
Kontaminan
logam berat dalam ciaran diendapkan dengan tawas/FeC13, Ca(OH)2/CaO
karena dapat mengikat As, Zn, Ni. Mn dan Hg.
c. Reduksi-Oksidasi
Terhadap
zat organik toksik dalam limbah dapat dilakukan reaksi reduksi oksidasi
(redoks) sehingga terbentuk zat yang kurang/tidak toksik.
d. Penukaran ion
Ion logam berat nikel, Ni dapat
diserap oleh kation, sedangkan anion beracun dapat diserap oleh resin anion.
B. Limbah Biologi
Pengolahan air
buangan secara biologis adalah salah satu cara pengolahan yang diarahkan untuk
menurunkan atau menyisihkan substrat tertentu yang terkandung dalam air buangan
dengan memafaatkan aktivitas mikroorganisme untuk melakukan perombakan substrat
tersebut.
Proses
pengolahan air buangan secara biologis dapat berlangsung dalam tiga lingkungan
utama, yaitu :
·
Lingkungan aerob, yaitu lingkungan
dimana oksigen terlarut (DO) didalam air cukup banyak, sehingga oksigen bukan
merupakan faktor pembatas;
·
Lingkungan anoksik, yaitu lingkungan
dimana oksigen terlarut (DO) didalam air ada dalam konsentrasi yang rendah.
·
Lingkungan anaerob, merupakan kebalikan
dari lingkungan aerob, yaitu tidak terdapat oksigen terlarut, sehingga oksigen
menjadi faktor pembatas berlangsungnya proses metabolisme aerob.
Berdasarkan pada
kondisi pertumbuhan mikroorganisme yang bertanggung jawab pada proses
penguraian yang terjadi, reaktor dapat dibedakan menjadi 2 bagian, yaitu :
·
Reaktor pertumbuhan tersuspensi
(suspended growth reactor), yaitu reaktor dimana mikroorganisme yang berperan
pada prosses biologis tumbuh dan berkembang biak dalam keadaan tersuspensi.
·
Reaktor pertumbuhan lekat (attached
growth reactor), yaitu reaktor dimana mikroorganisme yang berperan pada proses
penguraian substrat tumbuh dan berkembang biak dalam keadaan yang tersuspensi.
C. Limbah Fisika
Tahap
penyaringan (screening) merupakan cara yang efisien dan murah untuk menyisihkan
bahan tersuspensi yang berukuran besar biasanya dengan menggunakan sand filter
dengan ukuran silica yang disesuaikan dengan bahan-bahan tersuspensi yang akan
disaring. Bahan tersuspensi yang mudah mengendap dapat disisihkan secara
mudahdengan proses pengendapan, pada proses ini bisa dilakukan tanpa tambahan
bahan kimia bila ukurannya sudah besar dan mudah mengendap tapi dalam kondisi
tertentu dimana bahan-bahan terususpensi sulit diendapkan maka akan digunakan
bahan kimia sebagai bahan pembantu dalam proses sedimentasi, pada proses ini
akan terjadi pembentukan flok-flok dalam ukuran tertentu yang lebih besar
sehingga mudah diendapkan pada proses yang menggunakan bahan kimia ini masih
diperlukan pengkondisian pH untuk mendapatkan hasil yang optimal. Parameter
desain yang utama untuk proses pengendapan ini adalah kecepatan mengendap
partikel dan waktu detensi hidrolis di dalam bak pengendap.
Proses flotasi
banyak digunakan untuk menyisihkan bahan-bahan yang mengapung seperti minyak
dan lemak agar tidak mengganggu proses pengolahan berikutnya. Flotasi juga
dapat digunakan sebagai cara penyisihan bahan-bahan tersuspensi (clarification)
atau pemekatan lumpur endapan (sludge thickening) dengan memberikan aliran
udara ke atas (air flotation). Proses filtrasi dalam pengolahan air buangan,
biasanya dilakukan untuk mendahului proses absorbsi atau proses reverse
osmosisnya, akan dilaksanakan untuk menyisihkan sebanyak mungkin partikel tersuspensi
dari dalam air agar tidak mengganggu proses adsorbsi atau menyumbat membran
yang dipergunakan dalam proses osmosa.
Proses adsorbsi,
biasanya dengan karbon aktif, dilakukan untuk menyisihkan senyawa aromatik
(misalnya: fenol) dan senyawa organik terlarut lainnya, terutama jika
diinginkan untuk menggunakan kembali air buangan tersebut. Teknologi membran
(reverse osmosis) biasanya diaplikasikan untuk unit-unit pengolahan kecil,
terutama jika pengolahan ditujukan untuk menggunakan kembali air yang diolah.
Biaya instalasi dan operasinya sangat mahal.

Komentar
Posting Komentar