RESUME PENGELOLAAN LABORATORIUM FISIKA
‘’KESELAMATAN
KERJA LABORATORIUM’’
Nama. :Rita Arnila
NIM : A1C317073
Kelas : Pendidikan Fisika Reguler A 2017
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN FISIKA
JURUSAN PENDIDIKAN MATEMATIKA dan ILMU
PENGETAHUAN ALAM
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS JAMBI
2018
Keselamatan dan kesehatan kerja difilosofikan
sebagai suatu pemikiran dan upaya untuk menjamin keutuhan dan kesempurnaan baik
jasmani maupun rohani tenaga kerja pada khususnya dan manusia pada umumnya,
hasil karya dan budayanya menuju masyarakat makmur dan sejahtera. Sedangkan
pengertian secara keilmuan adalah suatu ilmu pengetahuan dan penerapannya dalam
usaha mencegah kemungkinan terjadinya kecelakaan dan penyakit akibat kerja.
Pelaksanaan Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3)
adalah salah satu bentuk upaya untuk menciptakan tempat kerja yang aman, sehat,
bebas dari pencemaran lingkungan, sehingga dapat mengurangi dan atau bebas dari
kecelakaan kerja dan penyakit akibat kerja yang pada akhirnya dapat
meningkatkan efisiensi dan produktivitas kerja.
A.
Jenis-jenis Kecelakaan
di Lab
Berbagai
jenis kecelakaan dapat terjadi dilaboratorium sekolah. Jenis-jenis kecelakaan
yang dapat terjadi di laboratorium sekolah diantaranya:
1)
Terluka,disebabkan
oleh pecahan kaca dan/atau tertusuk benda-benda tajam yang lain.
2)
Terbakar,disebabkan
tersentuh api atau benda panas lain, dan oleh bahan kimia tertentu seperti
fosfor.
3)
Terkena Racun
(Keracunan),keracunan ini terjadi karena bekerja menggunakan zat beracun yang
secara tidak sengaja dan/atau kecerobohan masuk ke dalam tubuh. Perlu diketahui
bahwa beberapa jenis zat beracun dapat masuk ke dalam tubuh melalui kulit.
4)
Terkena Zat
Korosif,seperti berbagai jenis asam. Misalnya asam siliat pekat, asam format,
atau berbagai jenis basa seperti natrium hidroxida, kalium hidroksida dan
‘0,880’ larutan amonia dalam air.
5)
Terkena
Radiasi, radiasi sifatnya sangat berbahaya jika terkena ke tubuh manusia,
misalnua sinar dari zat radioaktif (jika disekolah tersedia zat seperti ini),
sinar X dan sinar Ultraviolet.
6)
Terkena Kejutan
Listrik, pada waktu menggunakan listrik bertegangan tinggi.
Kecelakaan
di laboratorium dapat terjadi karena hal-hal berikut.
1.
Kurang pengetahuan dan
pemahaman terhadap bahan-bahan, proses, dan alat yang digunakan.
2.
Kurang cukup instruksi
atau supervisi oleh pengelola laboratorium.
3.
Tidak menggunakan alat
pelindung atau alat yang tepat.
4.
Tidak memperhatikan
instruksi atau aturan.
5.
Tidak memperhatikan
sikap yang baik waktu bekerja di laboratorium.
B. Pertolongan Pertama Pada Kecelakaan di Lab
Keselamatan kerja laboratorium merupakan salah
satu aspek penting yang harus diperhatikan. Ibarat seseorang yang tengah
berjalan di jalan raya, bekerja di laboratorium juga memerlukan rambu-rambu
sehingga selama dalam perjalanan dapat sampai tujuan dengan selamat.
Kecelakaan dapat terjadi bukan hanya karena
tidak memperhatikan etika berkendara dan rambu-rambu lalu lintas, tetapi juga
dapat terjadi ketika ada orang lain yang lalai. Sama halnya dengan kecelakaan
kerja di laboratorium, tentu bukanlah kejadian yang disengaja, tetapi bisa
terjadi apabila ada kelalaian dari diri sendiri dan orang lain. Artinya, semua
pihak sangat berperan dalam menerapkan budaya keselamatan kerja.
Bekerja di laboratorium dengan nyaman akan
mempengaruhi kelancaran aktivitas kerja dan kecelakaan kerja dapat dihindari.
Kecelakaan kerja di laboratorium bisa menimbulkan kerugian materi serta adanya
korban manusia. Kecelakaan kerja dapat menyebabkan korban mengalami luka, cacat
fisik, gangguan kesehatan, trauma, bahkan dapat mengancam nyawa seseorang.
Semua kemungkinan ini dapat dicegah dengan memperhatikan pedoman keselamatan
kerja.
Alat dan instrumentasi
Penggunaan alat-alat gelas laboratorium yang tidak sesuai dengan
fungsi dan cara pemakaian yang benar dapat menimbulkan resiko kecelakaan kerja.
Menuangkan larutan asam ke dalam buret tanpa bantuan corong gelas atau dengan
menaiki meja kerja dapat menyebabkan resiko percikan bahan kimia di wajah atau
tangan. Alat gelas yang telah berkurang fungsi dan kegunaannya, seperti ada
bagian yang telah hilang, retak atau pecah sebaiknya tidak lagi digunakan.
Instrumentasi yang tidak layak pakai juga tidak digunakan, seperti necara yang
telah rusak sehingga menimbulkan kesalahan penimbangan, dapat berakibat
kesalahan dalam pembuatan bahan atau campuran reaksi. Sentrifuge yang rusak
sebaiknya tidak digunakan.
Langkah-langkah dalam pertolongan pertama pada kecelakaan
Tujuan pemberian pertolongan pertama pada kecelakaan adalah :
1. Mempertahankan korban agar tetap hidup;
2. Membuat korban agar tetap stabil dan tidak lebih parah;
3. Mengurangi rasa nyeri, tidak nyaman atau rasa cemas pada
korban.
Jika terjadi kecelakaan hendaklah seseorang:
1. Segera memberitahu bagian keamanan untuk segera mencari
pertolongan;.
2. Menyiapkan beberapa informasi yang meliputi:
· kondisi penderita
· perincian penyebab
kecelakaan
· lokasi kecelakaan
(nomor ruang dan nama gedung)
3. Melakukan pertolongan pertama prosedur
emergency:
· menjauhkan korban dari
penyebab kecelakaan;
· mencari penyebab utama
kecelakaan;
· memberikan pertolongan
pertama; dan
· membawa korban ke rumah
sakit.
Sengatan listrik
· Jangan sentuh korban
yang sedang terkena sengatan listrik.
· Putuskan
segera kontak antara korban dengan sumber listrik dengan cara paling cepat,
tepat dan aman.
· Jika tidak dapat,
gunakan bahan yang tidak menghantar listrik untuk memisahkan korban dari sumber
listrik.
· Jika
korban mengalami luka, rawatlah seperti pada korban yang terluka.
· Periksalah
ABC-nya. Jika korban tidak bernafas, lakukan pernafasan dari mulut ke mulut.
Jika jantung berhenti, lakukan CPR.
Beberapa hal yang harus dilakukan pada
keadaan gawat adalah sebagai berikut.
- Periksalah
Airway, Breathing, dan Circulation (ABC) pada korban.
- Airway (jalan nafas), pastikan bahwa
jalan nafas koban tidak terhalang oleh lidah atau benda lain.B
- Breathing
(pernafasan),
periksa pernafasaanya, kalau perlu berikan pernafasan buatan (teknik mulut
ke mulut atau CPR = Cardio Pulmonary Resusciation).
- Circulation (sirkulasi), periksalah nadi
korban, bila denyut nadi tidak terasa, lakukan teknik CPR.
- Bertindaklah
dengan cepat, karena waktu walaupun satu detik sangat berarti dan berharga
bagi korban.
- Jangan
mengangkat atau memindahkan korban yang luka pada leher atau tulang
belakang, kecuali dalam keadaan terpaksa.
- Mintalah
seseorang untuk memanggil ambulan atau dokter, sementara itu lakukan
pertolongan pertama.
- Jangan
menarik pakaian korban yang terkena luka bakar.
- Bersikap
tenang dan tenangkanlah korban.
- Jangan
memaksa memberi minuman atau obat pada korban yang kesadarannya menurun
atau tidak sadar.
- Jangan
membangunkan korban yang pingsan dengan menggoncang-goncang badannya.
- Buatlah
laporan kejadian.
KESIMPULAN
Secara umum beberapa peristiwa yang pernah terjadi di
laboratorium dapat merupakan cermin bagi setiap orang untuk meningkatkan
kewaspadaannya ketika bekerja di laboratorium. Peristiwa-peristiwa tersebut
kadang-kadang terlalu pahit untuk dikenang, namun meninggalkan kesan pendidikan
yang baik, agar tidak melakukan kesalahan dua kali pada peristiwa yang sama.
Oleh karena itu, untuk mengurangi bahaya yang terjadi, setiap pengguna
laboratorium (mahasiswa, dosen, peneliti dan sebagainya) harus melakukan
pekerjaannya menurut praktek laboratorium yang benar.

Komentar
Posting Komentar